Pemkot Ambon Gelar Festival Mini Lingkungan Hidup “Aneka Kalesang Negeri”

AMBON, PPID – Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, Pemerintah Kota Ambon menggelar Festival Mini Lingkungan Hidup “Aneka Kalesang Negeri” di Negeri Rutong, Sabtu (28/2/26).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon.

Pada kesempatan tersebut, Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena membacakan arahan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisal Nurrofiq, yang menegaskan bahwa peringatan HPSN bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum krusial untuk mempercepat langkah nyata dalam menuntaskan persoalan sampah di Indonesia.

“Setiap tanggal 21 Februari, Indonesia memperingati Hari Peduli Sampah Nasional sebagai refleksi perjalanan panjang sistem pengolahan sampah akibat peristiwa yang tidak boleh terulang,” demikian kutipan arahan Menteri yang dibacakan Wali Kota.

Dalam arahan tersebut diingatkan kembali tragedi longsornya TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 yang menelan banyak korban jiwa dan menjadi titik balik perubahan paradigma pengelolaan sampah nasional, dari sistem kumpul-angkut-buang menuju prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan ekonomi sirkular.

Menteri Lingkungan Hidup juga menekankan bahwa persoalan sampah di tanah air telah berada pada tahap yang tidak bisa lagi ditunda penyelesaiannya. Melalui HPSN 2026, pemerintah mengusung visi besar “Kolaborasi untuk Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah)”.

“Persoalan sampah tidak akan pernah tuntas jika kita hanya mengandalkan pengolahan di hilir atau sekadar memindahkan masalah ke tempat lain,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Wali Kota Bodewin menegaskan bahwa Pemerintah Kota Ambon berada dalam tujuan yang sama dengan gerakan nasional tersebut.

“Ada dua kebijakan besar yang kita lakukan. Pertama, pemerintah meningkatkan kapasitas dirinya. Kita pastikan tersedia sarana-prasarana dan infrastruktur yang memadai serta SDM pengelola sampah yang berkualitas,” ujarnya.

Ia menyebutkan berbagai langkah konkret yang telah dilakukan, mulai dari penambahan armada pengangkut sampah, penggantian TPS beton menjadi kontainer plastik, pembangunan 19 collection point, hingga rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan teknologi Material Recovery Facility (MRF).Bahkan, residu sampah akan diolah menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) menjadi briket yang direncanakan bekerja sama dengan PLN.

“Tahun ini kita bangun tempat pengelolaan sampah terpadu dengan teknologi Material Recovery Facility (MRF). Residu sampah akan kita olah dengan RDF menjadi briket untuk dikerjasamakan dengan PLN. Karena kita tidak mungkin membangun instalasi pembangkit listrik dari sampah di Kota Ambon, karena sampah kita cuma sedikit. Belum 300 ton per hari.Yang dibutuhkan untuk waste to energy dengan itu ya, seribu-dua ribu ton per hari,” jelasnya.

Selain peningkatan kapasitas pemerintah, Wali Kota menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat sebagai faktor utama.

“Saya cuma minta dua hal. Buang sampah pada tempatnya dan pada waktunya. Buang di TPS yang sudah disediakan, dan buang jam 10 malam sampai 5 pagi. Supaya siang hari kota kita bersih dari sampah yang bertebaran,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perilaku membuang sampah sembarangan yang masih terjadi, termasuk di sungai meskipun telah dipasang jaring penahan sampah. Dalam dua hari, volume sampah yang terangkut dari sungai bahkan mencapai 10 ton.

“Kalau mau Ambon bersih, mulai dari kesadaran bersama,” tandasnya. (MCAMBON/MT)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *