AMBON, PPID – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ambon memberikan pemaparan komprehensif terkait perkembangan ekonomi dan capaian inflasi tahun 2025. Langkah ini merupakan bentuk edukasi publik menyusul dinamika inflasi tahun kalender (year to date) pada Desember 2025 yang menempatkan Ambon di posisi tertinggi di kawasan Indonesia Timur, Kamis (15/1/26) di Ruang Rapat Command Center Dinas KominfoSandi.
Plt. Kepala BPS Kota Ambon, Pauline Gaspersz, menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat yang proporsional dalam memaknai indikator makroekonomi agar tidak terjadi diskursus yang keliru.

“Inflasi Kota Ambon pada Desember 2025 memang tercatat yang tertinggi di Indonesia Timur. Namun, kondisi ini perlu dipahami secara utuh. Kami memberikan edukasi ini agar masyarakat memiliki perspektif yang merata dan objektif,” ungkap Pauline saat memimpin pemaparan resmi.
Ia meluruskan bahwa inflasi tidak selamanya bersifat negatif, namun merupakan indikator dinamis yang mencerminkan pergerakan roda ekonomi di suatu daerah.
“Inflasi perlu dikendalikan, bukan dientaskan. Kadang inflasi diperlukan dalam level tertentu untuk menjaga gairah ekonomi, tergantung pada kondisi pasar. Fokus pemerintah adalah menjaga keseimbangan tersebut,” jelasnya.
BPS merincikan bahwa perhitungan inflasi di Ambon didasarkan pada Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencakup 359 komoditas, sesuai dengan pola konsumsi masyarakat setempat berdasarkan Survei Biaya Hidup (SBH) terbaru.
Secara kumulatif (year-to-date), inflasi Kota Ambon tahun 2025 mencapai 4,23 persen. Analisis data menunjukkan bahwa lonjakan tersebut didominasi oleh faktor eksternal dan harga yang diatur pemerintah (administered prices), yakni Emas Perhiasan sebesar 0,79 persen dan Angkutan Udara sebesar 0,42 persen.
Total kontribusi kedua komoditas ini mencapai 1,21 persen. Pauline menggarisbawahi bahwa jika kedua faktor yang sangat dipengaruhi oleh harga global dan musim puncak liburan (peak season) ini dikesampingkan, posisi inflasi Ambon sejatinya masih berada dalam rentang sasaran nasional.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Ambon mencatatkan keberhasilan gemilang dalam menjaga stabilitas pangan. Inflasi beras tahun 2025 mampu ditekan hingga 0,26 persen, turun signifikan dibanding tahun 2024 yang mencapai 0,44 persen.
“Ini adalah bukti nyata keberhasilan sinergi pemerintah daerah dan pusat dalam menjaga ketahanan pangan dan kelancaran distribusi logistik di Kota Ambon sepanjang tahun 2025,” tegasnya.
Meskipun angka inflasi cukup dinamis, BPS melihat adanya sinyal positif pertumbuhan ekonomi daerah. Tingginya angka kedatangan penumpang di Bandara Pattimura selama masa libur akhir tahun menjadi motor penggerak bagi sektor logistik, pariwisata, dan perdagangan.
“Ini menjadi sinyal kuat bahwa perekonomian Kota Ambon sedang berkembang. Tantangan kita ke depan adalah mentransformasi dampak inflasi ini menjadi peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal,” tambah Pauline.

Sebagai langkah mitigasi berkelanjutan, BPS merekomendasikan tiga poin utama yaitu Diversifikasi Pangan, Standardisasi Transaksi dan Modernisasi Perdagangan.
Menutup keterangannya, Plt. Kepala BPS Kota Ambon mengajak seluruh masyarakat untuk menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 yang akan mencakup seluruh sektor usaha non-pertanian. Data akurat hasil sensus tersebut akan menjadi pondasi utama dalam menyusun perencanaan pembangunan nasional dan daerah yang lebih tepat sasaran.
“Angka inflasi harus dibaca secara utuh sebagai dasar pengambilan kebijakan yang tepat, bukan untuk memicu kekhawatiran berlebih,” pungkasnya. (MCAMBON/MT)
